Relawan Islam TV - Televisi Pemersatu dan Benteng Akidah Islam

Jumat, 18 September 2015

Kerajaan Saudi Arabia: Lepaskan Tangan Anda Dari Al-Aqsa




JEDDAH: Pelindung Haramayn Raja Salman mengutuk Israel atas serangan semena-mena terhadap orang-orang yang sedang beribadah di Masjid al-Aqsa.

Sang Raja telah menyampaikan keprihatinannya terhadap tindakan Israel melalui telepon kepada Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Mentri Britania Raya David Cameron, Presiden Perancis Francois Hollande, dan Sekretaris Jendral PBB Ban-Ki Moon.

Beliau menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan segera untuk menghentikan pelanggaran-pelanggaran hukum di Masjid al-Aqsa, melindungi rakyat Palestina dan objek-objek sucinya, serta memastikan bahwa Israel menyerahkan kedaulatan kepada Palestina sesuai SPA.

Raja Salman menyatakan bahwa serangan tersebut menodai kesucian agama-agama, dan berkontribusi pada ekstrimisme dan kekerasan di dunia. Menurut laporan, pemerintah Saudi Arabia tegas menunjuk Israel bertanggungjawab penuh atas tindakan agresi yang terjadi.

Para pejabat Saudi Arabia memberi peringatan bahwa tindakan Israel telah menodai tempat suci ketiga milik umat islam, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional. Salah seorang pejabat juga memperingatkan bahwa tindakan rezim Zionis akan meningkatkan konflik di wilayah regional setempat, dan juga mengutuk Israel karena berusaha memecah Al-Aqsa.

Raja Salman telah menyampaikan kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas bahwa beliau telah menghubungi para pemimpin dunia untuk menyampaikan soal Masjid Al-Aqsa ini dan telah meminta Menteri Luar Negeri Adel Al-Jubeir untuk mengambil tindakan-tindakan untuk mengamankan Masjid Al-Aqsa, menurut laporan.

Dalam seminggu ini polisi Israel memasuki pekarangan Al-Aqsha untuk membubarkan demonstran, dengan cara yang begitu buruk sehingga seluruh dunia Arab menyampaikan kecamannya dan, menurut laporan, juga kekhawatiran bahwa ketegangan dapat bertambah dan tak terkendali.

(diterjemahkan oleh Fajri M. Muhammadin)

Sumber: Arab News
http://www.arabnews.com/featured/news/808031

Kamis, 17 September 2015

Pendistribusian Air Bersih ke Pucak Wangi oleh Relawan Aqidah Forum ARIMATEA Kabupaten Pati, Jawa Tengah







Menyinggung Islam, Raperda Manokwari Kota Injil Ditinjau Kelayakannya



RITV, Manokwari – Raperda Manokwari Kota Injil belum disahkan karena menunggu verifikasi kelayakan. Bupati dan DPRD minta Raperda ditinjau ulang, terutama yang menyangkut agama Islam, antara lain larangan jilbab dan gema azan. Global Future Institute (GFI) menengarai, gagasan Raperda tersebut sebagai dijadikan pintu masuk bagi para misionaris Kristen/Katolik sebagai kedok dari operasi aparat intelijen Asing. Di balik Raperda ini ada konspirasi pihak Amerika dan beberapa negara Uni Eropa untuk menerapkan skenario memecah-belah Papua.

Hingga saat ini Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manokwari belum membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Manokwari sebagai Kota Injil. Sejak digagas pada hari Peringatan Injil masuk di Manokwari, 5 Februari 2005 silam, Raperda tersebut tidak pernah menemui kesepakatan dan terus menjadi bahan polemik.

Karenanya, Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah Manokwari, Papua Barat, mendesak DPRD Manokwari untuk mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Kota Injil di wilayah itu.
 “Kami mendesak, ini tidak bisa ditunda-tunda lagi, sudah terlalu lama masyarakat menanti,” kata Barnabas Mandacan, Ketua DAP Manokwari, Kamis (11/8/2011).

Menurutnya, Raperda Kota Injil bertujuan positif, setidaknya bisa mengatur kehidupan masyarakat yang heterogen untuk lebih harmonis dalam tuntunan Alkitab (Bibel). Bila ada pendapat yang menentang, baginya, wajar-wajar saja.

“Kita mau menyelaraskan semuanya, Perda itu penting, sehingga jangan ada tarik ulur lagi,” ujarnya.

Menanggapi desakan itu, Wakil Bupati Manokwari, Robert Hammar mengkhawatirkan adanya konflik jika Raperda itu disahkan, karena pembahasan Raperda tersebut terbentur dengan belum adanya kesepahaman warga dan tokoh terkait.

 “Jika ini jadi disahkan, saya khawatir malah akan menimbulkan gejolak, jadi memang perlu pemikiran matang,” katanya.

Pemerintah Manokwari, kata dia, siap mensosialisasikan Perda Kota Injil apabila telah disahkan. Namun menurutnya, perancang Perda harus lebih jauh melihat ke depan agar tidak menimbulkan konflik. Misalnya, terkait ketentuan pelarangan kerja di Hari Minggu atau melarang penerbangan pesawat pada hari ibadah umat Kristen.

“Parahnya adalah kalau Perda itu jadi, ada pelarangan tempat berdiri prostitusi, kalau itu ditutup, malah akan menciptakan tempat prostitusi liar yang sangat banyak, nah apakah kita semua bisa menanggulangi ini,” tanyanya.

Hammar menambahkan, saat ini pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengesahkan Raperda, selain menunggu verifikasi kelayakan.

“Ada beberapa benturan, ya kita tidak bisa buat apa-apa, kita masih menunggu verifikasinya apakah itu layak atau tidak,” katanya.

Hammar berharap, Raperda itu baiknya hanya mengatur soal umum dan tidak menyinggung hak asasi agama lain, misalnya soal penggunaan jilbab atau gema azan magrib.

“Itu kan hak asasi seseorang, toh di Aceh juga tidak ada pelarangan kalau umat Kristen tidak boleh beribadah, jadi menurut saya baiknya diatur kembali raperda itu,” tutupnya.

“Raperda itu baiknya tidak menyinggung hak asasi agama lain, misalnya soal penggunaan jilbab atau gema azan magrib. Itu kan hak asasi seseorang.”

Senada itu, Daud Indouw, Ketua Komisi B DPRD Manokwari mengatakan, pihaknya terbentur dengan belum adanya bahan Raperda yang akan dibahas. “Raperda itu sudah kami kasih ke pemerintah dan akademisi untuk ditinjau, karena harus melewati tahap verifikasi, namun sampai sekarang kami belum dapat laporannya,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun nantinya disahkan menjadi Perda, belum tentu langsung akan diterima masyarakat. “Karena kan harus disosialisasikan, jadi tidak langsung saja begitu,” katanya.

Indouw memandang, Raperda tersebut harus berdasar pada kondisi riil masyarakat Manokwari. Setidaknya pasal yang menyinggung hak asasi umat non-Kristen patut dikaji ulang. “Misalnya soal bahasa yang dikemas agar tidak boleh menggunakan jilbab, itu kan hak asasi mereka (Muslim) kita harus menghormatinya. Saya kira perlu dicermati lagi,” pungkasnya.

Skenario Amerika Untuk Pecah Belah Papua?

Kontroversi Raperda Kota Injil Manokwari semakin menjadi, ketika Global Future Institute (GFI) merilis kecurigaan adanya konspirasi pihak Amerika dan beberapa negara Uni Eropa untuk menerapkan skenario memecah-belah Papua.

“Konspirasi pihak Amerika dan beberapa negara Uni Eropa untuk menerapkan skenario balkanisasi nusantara, rupanya punya banyak cara. Di Papua, isu keagamaan sepertinya akan dijadikan alat politik untuk menciptakan konflik sosial antar golongan. Pemicunya, dengan akan dikeluarkannya Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA) Kota Injil Manokwari. Benarkah USAID terlibat?” tulis Hendrajit, Direktur GFI dalam artikel bertajuk “Monokwari Raperda Kota Injil Manokwari, Skenario Amerika Pecah Belah Papua?” yang dirilis 22 April 2010.

Global Future Institute mencermati Raperda Injil dengan penuh keprihatinan yang amat sangat. Pasalnya, di beberapa jalan protocol Kota Manokwari hingga ke desa-desa terdapat spanduk bertuliskan: ”Manokwari Kota Injil Membangun dengan Hati Mempersatukan dengan Kasih Menuju Manokwari Baru.”
 Lebih gilanya lagi, di pinggir jalan kota Manokwari juga terpampang tulisan “Selamat Datang di Manokwari Kota Injil, Tuhan Memberkati.”

Selain dinilai berpotensi merugikan salah satu agama, lanjut Hendrajit, yang tak kalah gawat adalah potensinya yang besar untuk memicu konflik beraroma agama dan kesukuan. “Di balik gerakan ini, jelas mengandung maksud untuk memicu sentimen keagamaan dan kesukuan sekaligus,” kecam Hendrajit.

Motif Raperda Kota Injil, ditengarai Hendrajit penuh kejanggalan. Mengapa usulan raperda tersebut baru digulirkan pada 2005 lalu? Sebagai daerah yang sedari awal, bermayoritaskan agama Kristen dan Katolik, apa perlunya Manokwari mengeluarkan Perda untuk dapat pengesahan dari Pemerintah? “Sepertinya memang ada agenda tersembunyi di balik usulan aneh semacam itu,” gugat Hendrajit. “Yang lebih aneh lagi, kabarnya gagasan Perda Kota Injil tersebut karena dipicu adanya rencana pembangunan masjid raya dan Islamic Center di Manokwari pada 2005 lalu,” tambahnya.

Untuk menjaga keamanan Kota Manokwari, Global Future Institute mendesak aparat intelijen yang terkait langsung dalam pemantauan perkembangan bidang politik dan keamanan nasional, untuk membaca situasi ini sebagai potensi menuju konflik antaragama. Konflik tersebut dicurigai sebagai kemasan dari konflik antara pusat dan daerah sebagai legitimasi untuk munculnya tuntutan Papua merdeka di kelak kemudian hari.

Yang lebih berbahaya, Global Future Institute menengarai gagasan Raperda tersebut sebagai dijadikan pintu masuk bagi para misionaris Kristen/Katolik sebagai kedok dari operasi aparat intelijen Asing.

Kecurigaan tersebut didukung  oleh informasi bahwa Pemerintah Amerika Serikat,  melalui United State Agency for International Development (USAID), telah mengeluarkan dana bantuan kepada Pemda Papua sebesar 100 juta dolar AS. Dengan langsung memberikan dana bantuan kepada Pemda Papua tanpa lewat pemerintah pusat, maka wajar jika memunculkan kecurigaan  bahwa Amerika sedang berusaha menjalin kontak langsung kepada pemerintah setempat tanpa melalui pemerintah pusat.

“Bukan tidak mungkin munculnya gagasan Raperda Kota Injil merupakan konsekwensi logis dari bantuan pihak USAID tersebut,” jelas Hendrajit.

“Selama ini, USAID memang telah menjadi perpanjangan tangan dari Departemen Luar Negeri Amerika, dan memiliki jalinan kerjasama strategis dengan pihak PT Freeport Indonesia, yang memiliki pertaruhan ekonomi bisnis yang cukup kuat di Papua di sektor tambang,” pungkasnya. [silum/dbs]




Minggu, 13 September 2015

Kilas Balik: Tour Dakwah di Jawa Timur


RITV - Dalam rangka mengimunisasi aqidah dan membangun kerja sama dalam dakwah, Forum ARIMATEA bersilaturrahmi ke Jawa Timur.

Forum ARIMATEA di Blitar, makam proklamator Bung Karno.



Di Kota Juwana, mengadakan kajian ilmiah "mengungkap kejahatan rahasia pemikul salib".


 Relawan-Relawan Aqidah dari berbagai daerah di Jawa Timur







 Perjalanan ke Madura, di atas jembatan Suramadu.








Suasana silaturrahmi & kajian Ilmiah Forum ARIMATEA dengan warga nahdiyin di Jawa Timur.



Bone Bidikan Misionaris



RITV, Makassar - Gerakan kristenisasi di Kabupaten Bone juga cukup massif. Berdasarkan penuturan salah seorang ikhwan yang bergelut di salah satu ormas Islam di Bone, tanpa masyarakat sadari, sekarang ini jumlah Gereja di Bumi Arung Palakka sudah mencapai belasan.

Tim Arimatea Makassar yang melakukan penelusuran selama dua hari, menemukan rata-rata gedung Gereja tersebut berada di lokasi yang sangat strategis, seperti GPIB Immanuel, yang bertempat di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Watampone. Bangunan yang di sampingnya terdapat sebuah Sekolah Dasar Kristen itu berlokasi tak jauh dari Rumah Jabatan Bupati Bone.

Allah Swt berfirman, "Janganlah kalian terperdaya dengan gerak-gerik mereka (orang-orang kafir) di negeri kamu."

Mari senantiasa mewaspadai segala bentuk modus pemurtadan dalam beragam jenis. Sebarkan dan sampaikan kepada keluarga, sahabat, dan saudara seiman kita yang lain. Barakallahu fikum. (FA Makassar)



Misi Kristenisasi di Indonesia: Menyambut Impian 2020 Sebagai Tahun Tuaian (Masa Panen) Kristen


Ilustrasi - Misi kristenisasi di Indonesia: Menyambut Impian 2020 sebagai Tahun Tuaian (Masa Panen) Kristen

RITV - Oleh: Ustadz Bernard Abdul Jabbar, Mantan Missionaris Kristen

Dari Sepanyol, Portugis Hingga VOC

Riwayat kristenisasi di Indonesia serentang dengan datangnya penjahat kolonial, selama lebih dari tiga abad Indonesia dijajah oleh Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris. Status sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus memiliki kekayaan alam yang melimpah menjadikan Indonesia menjadi ladang subur dan target penting bagi misionaris dan kolonialis, ibaratnya Indonesia adalah bunga desa yang banyak dipuja yang menjadi rebutan.

VOC atau perusahaan Belanda  di Hindia Timur yang dibentuk pada tahun1602 merupakan wakil imperialisme di Asia Tenggara.  Latourette dalam “A History of Cristianity” mengakui, ”Prinsip dan kaidah Kristen dalam kebijakan-kebijakan imperialisme memerankan peranan yang sangat banyak”.  Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda menuturkan bagaimana pada 1661 VOC melarang umat Islam untuk melaksanakan ibadah Haji, kebijakan ini merupakan realisasi anjuran Bogart, seorang Katholik ekstrim di parlemen Belanda.  Bogart menilai para haji sangat berbahaya secara politis, karena itu melarang perjalanan ibadah haji jauh lebih baik ketimbang menembak mati para haji itu.

Dalam menjalankan misi kristenisasi, VOC meniru cara-cara yang dilakukan Spanyol dan Portugis yaitu cara memaksa, penjajah Belanda memaksa rakyat pribumi untuk menerima ajaran Kristen, sebaliknya jika ada belanda yang masuk Islam maka akan dihentikan  segala pembelanjaannya dan orang itu akan ditangkap dan dikeluarkan dari wilayahnya. Perlindungan kaum imperialis kepada misionaris memiliki posisi penting di masyarakat. Ketika Indonesia merdeka, orang orang Kristen menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan dan memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik.

Perubahan dalam mukadimah UUD 45 dari ”Ketuhanan yang Maha Esa dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”, merupakan contoh kuatnya pengaruh Kristen di Indonesia.  Selanjutnya setiap rancangan undang-undang atau peraturan pemerintah yang dianggap menguntungkan kaum Muslimin selalu ditolak keras oleh kalangan Kristen, misal dalam rencana undang undang peradilan agama1989.  Sebaliknya, yang dianggap dapat menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Islam selalu didukung penuh, seperti dalam perdebatan RUU perkawinan 1973.   Juga berbagai konflik sejak dulu sampai sekarang yang melibatkan pemeluk Islam dan Kristen di Kalimantan , NTT, Poso, Maluku, Irian, Ambon, sebenarnya adalah buah dari aktivitas Kristenisasi yang tak kunjung padam dan dipadamkan.

Lebih lagi ketika mereka mencanangkan untuk menguasai Indonesia menjadi Negara Kristen sebagai batas target tahun 2020 dijadikan sebagai tahun tuaian (panenan) untuk menjadikan Indonesia menjadi 50% orang Kristen dan 50% orang  Islam maka mereka mengupayakan pulau Kalimantan menjadi Island Christ (Pulau Kristus), Manokrawi menjadi kota Injil, Papua atau Irian menjadi Tanah Yesus.  Bahkan dalam Jubelium memperingati 150 tahun Berdirinya HKBP pada hari Minggu tanggal 4 Desember 2011 di Gelora Senayan, yang juga di hadiri oleh Presiden Susilo Bambang  Yudoyono,  Ephorius (pemimpin) HKBP meminta untuk menjadikan Tapanuli Utara sebagai propinsi tersendiri yang akan dipimpin oleh orang suku batak yang Kristen.    

Amanat Agung yang Mereka Jalankan

Dasar mereka menjalankan misi ini adalah didasari karena perintah agama sebagai mana termaktub dalam surat Matius pasal 28 ayat 19-20: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dengan nama Bapak, anak dan Roh kudus.  Dan ajarlah mereka melakukan sesuatuyang telah kuperintahkan kepadamu.”

Ayat ini dikenal sebagai “AMANAT AGUNG” (The Great Commandment) sebagai perintah yang sangat kuat, walaupun sebenarnya menurut pakar kristologi dari golongan mereka menyatakan ini adalah ayat palsu yang ditambahkan sebagai upaya melegitimasi apa yang mereka lakukan.

Karena itu mereka sangat ngotot menjalankan misi ini, tak mengherankan juga seluruh komponen dikerahkan  merumuskan berbagai strategi cara untuk serta merta mengkristenkan dunia ini.

Seribu Jalan Kristenisasi  Menuju Negara Kristen Republik Indonesia

Banyak jalan yang ditempuh misionaris guna dapat memuluskan target besar mereka untuk dapat menjadikan Indonesia ini Negara Kristen seperti yang diungkap Media Dakwah (edisi Juni 1990 ) yang memuat bocoran keputusan Dewan Gereja Indonesia di Jakarta Tanggal 31 September 1979 perihal program jangka panjang kristenisasi  50 tahun di Indonesia yang jatuh pada tahun 2020 nanti dan juga program kristenisasi di Indonesia yang disadur majalah Cresent terbitan Kanada yang intinya bertujuan untuk meningkatkan populasi umat Kristen agar sama dengan umat Islam di Indonesia.  Ini dilakukan dengan mempropagandakan program keluarga berencana kepada kaum Muslimin dengan membatasi jumlah kelahiran dengan slogan “dua anak cukup”, “perempuan laki sama saja” dan mengharamkanya bagi kalangan Kristen, bahkan mereka dianjurkan untuk memperbanyak jumlah anak  bahkan doktrin yang banyak tersebar dikalangan Kristen sendiri adalah barang siapa yang mempraktekkan KB akan menanggung dosa dan melawan doktrin gereja dan barang siapa yang melakukan pembatasan kelahiran dianggap sebagai pembunuh orang Kristen dan telah hilang kemuliaan ini sesuai dengan perintah bible kitab kejadian pasal 1 ayat 27 – 28.  Sejalan dengan perkembangan waktu dan cara ini kemudian dirubah dengan cara halus dengan program “caesarisasi” bagi ibu-ibu muslim yang akan melahirkan  dengan mengupayakan  memperbanyak dokter- dokter sepesialis kebidanan dan kandungan dari golongan mereka, membangun klinik dan rumah sakit bersalin, bekerja sama dengan bidan-bidan untuk merujuk ke rumah bersalin dan klinik mereka dengan imbalan yang menggiurkan.

Sejalan dengan itu pula dibidang pemerintahan, jabatan jabatan strategis harus dipegang oleh orang Kristen baik ditingkat Eksekutif ataupun Yudikatif, Gubernur, Bupati, Walikota ataupun jabatan-jabatan strategis lainnya,  sehingga mereka dengan mudah mengontrol seluruh jalanya pemerintahan, karena itu peran partai Kristen sangat diperlukan untuk usaha tersebut.  Mereka mendirikan Partai Damai Sejaterah (PDS) yang sampai hari ini gagal mengikuti pemilu 2014 karena tidak masuk dalam klarifikasi partai peserta pemilu.  Partai ini  diketuai oleh seorang pendeta yaitu Dr. Ruyandi Hutasoit yang pada tahun 2005 di Surabaya pernah mengatakan, “Sudah saatnya umat Kristen harus menguasai struktur dan sistem walaupun kita tidak menguasai massa, tetapi kalau kita kuasai sistem itu, disini kita punya tantangan yang besar dan salah satu yang harus kita garap kuat adalah KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) itu sudah jelas banyak orang yang beragama Kristen disitu dan kita punya target juga kita akan bongkar semua, khususnya para tokoh-tokoh pejabat Muslim ini, untuk bisa dibongkar semua kasus korupsinya hingga bisa rusak citra mereka dimata umum, jadi ini sekenario besar dan terselubung yang … apa namanya harus dirancang secara sistematik ke depan buat kita, terus menyiapkan kader-kader PDS ke semua jajaran terutama di yudikatif itu adalah lembaga yang sangat pontensial dimana banyak SDM Kristen yang punya kekuatan punya kemampuan untuk didalam ini, sudah punya kekuatan yuridis juga melakukan judifikasi terhadap pejabat-pejabat yang sudah keluar dari jalur moral, etika ataupun sistem yang ada.  Nah kita budayakan dan manfaatkan link kita di KPK supaya itu harus terus berlanjut semakin lama semakin hari juga akan menegakan eksistensi orang orang Kristen yang ada dipemerintahan, dengan memberikan negative tinking kepada pejabat-pejabat Muslim.”  Dan lebih lanjut lagi Dr. Ruyandi Hutasoit mengemukakan, “Sudah saatnya istana Negara, terpampang lukisan Tuhan Yesus, atau lukisan perjamuan kudus, sudah saatnya di istana berkumandang lagu pujian dan penyembahan bagi sang raja disurga, sudah saatnya dari istana Negara dinaikan doa doa syukur! sudah saatnya di istana merdeka diadakan kebaktian, ibadah, persekutuan doa dari orang-orang Kristen! Ingat! kita adalah pemenang mari kita bersatu  dan mari kita bergandeng tangan!.”

Dengan ambisi yang begitu besar ini, mereka ingin menguasai beberapa pulau seperti Kalimantan, Papua, dan juga Jawa.  Mereka berusaha untuk memenangkan pilkada atau pilgub di tempat masing-masing dan ini terlihat banyak kekalahan mayoritas Islam disetiap pemilihan kepala daerah seperti di Kalimantan Barat dan Tengah yang mayoritas muslim, dapat dikalahkan oleh minoritas Kristen karena memang Kalimantan adalah target untuk dikuasai dengan menjadikan sebagai pulau Kristus.  Tak menutup kemungkinan pulau pulau lainnya seperti Jawa, Sumatra menjadi sasaran untuk mereka kuasai.

Rencana dan Setrategi Baru  

Pada tahun 2005 kaum Kristen telah merencanakan manuver baru dalam merealisasikan rencana tuaian 2020 dengan mempergunakan strategi Matius 10 ayat 16 “Licik seperti ular santun bagai merpati” dengan menamakan gerakan penuaian jiwa dan transformasi sebagai proyek kristenisasi terbesar dengan melibatkan semua elemen baik Kristen Protestan ataupun Kristen Khatolik dan di tahun 2020 ditargetkan sebagai tahun keberhasilan sebagaimana disampaikan oleh pendeta Dr. Jeff Hammond dalam bukunya “Transformasi Indonesa”.  “Sejak peristiwa G30S PKI, terjadi masa Koiros (tuaian/panen) di Indonesia sehingga dalam enam tahun ada lebih dari 7 juta orang di pulau Jawa yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan fokus tahun 2005 sebagai awal tahun tuaian atau masa panen dan tahun 2020 sebagai tahun penggenapan amanat agung.”

Masa Tuaian (Panen)

Masa inilah yang dinantikan oleh umat Kristiani yang selalu memanfaatkan keadaan lemah dari suatu masyarakat, bangsa dan Negara dimanapun mereka berada.  Ketika di Rusia komunis dalam keadaan goyah dan hampir runtuh, begitu pula yang terjadi di Berlin, Jerman, dengan jebolnya tembok Berlin serta juga peperangan yang terus-menerus di Afghanistan, Pakistan, Irak, Iran dan negara -negara Timur Tengah juga Afrika, maka daerah-daerah tersebut menjadi terbuka untuk Injil dan orang orang Kristen dari barat, mereka datang berduyun-duyun ke wilayah tersebut, tak terkecuali mereka datang ke Indonesia disaat bangsa ini dilanda keputusasaan, penderitaan, krisis kepercayaan kepemimpinan, dan juga berbagai kondisi buruk lainnya, membuat para misionaris percaya diri bahwa Indonesia menjadi lahan subur untuk siap tuai panenan, hal ini disampaikan oleh pendeta Gembala sidang (GBKP).  Ia mengatakan, “Indonesia adalah ladang yang sedang menguning  yang sangat besar tuaiannya dan Indonesia siap mengalami tansformasi yang besar hal ini bukan suatu kerinduaan yang hampa, namun suatu peryataan iman terhadap janji firman Tuhan dan Indonesia cocok bagi tuaian besar yang Tuhan rencanakan.”

Konsilidasi Kaum Kristiani      

Di berbagai belahan dunia kaum Nasrani melakukan berbagai konsolidasi do’a bersama dan puasa nasional dengan mendatangkan para tokoh-tokoh Kristen baik itu pendeta, misionaris, penginjil, zending ataupun sebangsanya dengan tujuan untuk menguatkan iman Kristen.  Konsolidasi ini telah dilakukan pada tanggal 12 sampai 16 Mei tahun 2003 bertempat di gelora Bung Karno Senayan dengan tajuk pemulihan bangsa dengan mendatangkan para pendeta, evengelis dan juga tokoh-tokoh Kristen dunia dan dihadiri tidak kurang dari 80.000 orang Kristen dan 10.000 pemimpin Kristen dari berbagai Negara. Dan acara ini sempat menghebohkan umat Islam Indonesia dengan pemberkatan (pembaptisan) yang dilakukan kepada Gus Dur yang saat itu menjabat Presiden RI di mana dia juga memberikan sambutan, serta menyambut baik gerakan transformasi ini, dan pada tahun 2005 dicanangkan sebagai genderang awal gerakan transformasi dimulai.  Kegiatan ini terus dilakukan setiap tahunnya dan pada tanggal 25 -28 Oktober 2011 yang lalu bertempat di JHCC Sentul Bogor, diadakan acara serupa dengan menghadirkan 4000 para misionaris dan juga pendeta se-Asia yang juga dihadiri dihari terakhir acara 10.000 orang Kristiani untuk diberkati.  Acara ini bertajuk sama dengan acara-acara sebelumnya yaitu konsolidasi dan pemberkatan keselamatan untuk bangsa- bangsa di dunia ini khususnya Indonesia yang menjadi lahan subur garapan mereka. Kerap kali mereka juga mengadakan pertemuan dan diskusi-diskusi tentang keagamaan dan juga lintas agama sebagai upaya untuk melihat sejauh mana kesiapan mereka dan juga tantangan dari umat lainya terhadap program yang mereka lakukan.

Persiapan SDM dan Infrastruktur

Untuk merealisasikan tahun tuaian dan NKRI( Negara Kristen Republik Indonesia) ini mereka melakukan berbagai persiapan-persiapan yang sangat matang, terencana dan sistematis, termasuk persiapan SDM dan juga infrastruktur seperti Gereja, sekolah tinggi teologi dan lain sebagainya.   Sebagaimana yang dikatakan oleh pendeta Bambang Wijaya dalam bukunya Transformasi Indonesia, “Petani yang bijaksana saat melihat tuaian sudah diambang pintu, ia akan segera mempersiapkan tenaga penuai sebanyak-banyaknya, karena itu ia tidak akan menyia-nyiakan ladangnya, itulah sebabnya tidak mengherankan apaabila Tuhan Yesus Kristus bekata, “Tuaian memang banyak tapi pekerja sedikit, maka mintalah tuaian pada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan  pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Jika selama ini yang kita dengar hanya pendeta, misionaris, atau orang tertentu saja yang menjalankan misi pengkristenan maka dengan lahirnya gerakan transformasi banyak gereja harus secara aktif menjadikan semua jemaatnya menjadi tenaga penuai atau pengkabar baik.

Termasuk salah satu persiapan sumber daya manusia  adalah dengan membangun dan mengaktifkan serta merekrut  kembali para laskar-laskar Kristus yang selama ini berperan dalam menjaga dan mengamankankan aset-aset yang dimiliki oleh Kristen dan juga mereka selalu terjun didaerah- daerah konflik seperti, Poso, Ambon juga didaerah- daerah perseteruan gereja, seperti di Ciketing Bekasi  dan  gereja Yasmin di Bogor, Tanggerang Lippo  bahkan mereka juga punya andil dalam menurunkan Suharto sebagai presiden RI waktu tahun1998.

Mereka juga mempersiapkan kader-kader gereja yang dipersiapkan dengan matang, handal dan bermental baja yang bisa masuk kemana saja baik di jajaran birokrasi, yudikatif atau pun eksekutif dan disemua lini karena mereka adalah sel tuaian besar abad 21.

Mendirikan Sekolah Tinggi International Harvest (HITS) yang bekerja sama dengan 2000 gereja se Indonesia guna untuk mendirikan sekolah Al- kitab di dalam gereja, dalam brosur yang disebarkan itu ada paket gratis dengan jaminan 2000 gereja lokal untuk mempersiapkan 200.000 pemimpin perintis gereja  yang akan diterjukan kepada umat dalam menyambut tahun tuaian 2020 nanti.

Memperbanyak jumlah gereja sebagai sarana untuk menampung hasil tuaian, dan mereka menyadari bahwa transformasi tidak akan berjalan tanpa mengikuti master plant yang telah direncanakan maka pendirian gereja harus diperbanyak walaupun hanya satu orang yang mengisinya sebagaimana  yang diungkapkan oleh pendeta Dr. Eddy Leo, Mth. Maka salah satu yang harus juga diperhatikan adalah gereja karena gereja adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari tubuh Kristus.  Dan kita melihat sekarang ini tingkat pertumbuhan yang sangat tajam dari jumlah gereja diberbagai tempat yang meningkat hingga 300% dibanding dengan pertumbuhan masjid  yang hanya 60% setiap tahunnya menurut data Kementrian Agama, walaupun di dalam pembangunan gereja yang mereka dirikan banyak timbul masalah dan tidak sesuai dengan aturan hingga pada akhirnya banyak timbul gesekan dimana gereja itu dibangun, seperti pemalsuan KTP, tidak ada IMB, menipu dan membohongi masyarakat dan lain sebagainya.

Mereka juga telah mempersiapkan buku panduan dan aturan dalam melaksanakan tuaian atau pengkristenan yang sudah di terjemahkan kedalam 20 bahasa berjudul ”The Final Sing” yang dikarang oleh pendeta Dr. Peter Youngren  asal Kanada yang berisi pelajaran mengenai tuaian akhir zaman dibagikan secara gratis yang pembagianya dalam pengawasan salah satu organisasi Kristen “World Impact Ministries and The Global Harvest Force” dibagikan kepada sekitar 10.000.000 pekerja tuaian dari berbagai Negara yang khusus untuk pelayanan akhir zaman.

Membentuk lembaga atau  organisasi-organisasi, kepemudaan, sosial, bantuan-bantuan kemanusiaan, pendanaan, persekutuan gereja, pendidikan dan lain sebagainya diantaranya adalah:

1. BAMAG (badan musyawarah antar agama).

Suatu lembaga yang didirikan untuk memperluas jangkauan misi antar gereja sehingga di setiap gereja di kota dan wilayah melebur dengan lembaga yang sama, ini adalah elemen kekuatan gabungan Kristen yang mewadahi gereja-gereja di Indonesia.

2. FGBMFI (Full Gospel Business Men’s Fellowship International)

Gabungan dari pengusaha–pengusaha Kristen yang banyak membantu pendanaan untuk misi kristenisasi di Indonesia termasuk perusahaan-perusahaan besar di Indonesia seperti Lippo Group, Ciputra, Intiland, Sumarecon, Sedayu Group dan dipimpim oleh James Riyadi (group Lippo).

3. NCFI (Nation Care For Indonesia)

Badan atau lembaga Kristen yang menaungi advokasi bantuan hukum  dan investigasi bagi mereka yang tersandung masalah hukum yang berkait perseteruan dengan umat lainya.

4. YMCA ( Young Men’s Christian Asociation)

Gabungan para pemuda-pemudi Kristen dari semua elemen pemuda Kristen yang bergerak menangani dan mengurusi setiap kegiatan pemuda Kristen.

5. Yayasan Gideon Internasional

Lembaga yang dibentuk dari kalangan professional yang memfokuskan diri pada bidang percetakan dan penerbitanIinjil untuk dibagikan sebagai amunisi secara gratis ke sekolah, hotel, rumah sakit dan lain sebagainya.

Melihat  kondisi ini apakah impian mereka untuk menjadikan tahun 2020 sebagai tahun tuaian bisa tercapai atau pada akhirnya Negara Kristen Indonesia terwujud?  Maka umat Islam harus waspada dan bersatu mempersiapkan diri dan jangan terkecoh dengan apa yang mereka lakukan di negri ini.   Ummat Islam harus selalu memahami agamanya dengan benar agar tidak terjebak masuk pada perangkap mereka dan selalu waspada untuk menghadang apa yang mereka rencanakan.   Wallahua’lam bishawab.  

Allah berfirman “Janganlah kalian terperdaya dengan gerak-gerik mereka  (orang-orang kafir) di negeri kamu.” 


(samirmusa/arrahmah.com)

ARIMATEA dan Kelompok Kajian Al-Jazeera Pantau Lokasi Musibah Rawan Kristenisasi




RITV, Pati - Tidak ingin kecolongan lagi seperti di daerah lain yang rawan kristenisasi pasca musibah gunung meletus, banjir, tanah longsor dan lainya , beberapa perwakilan anggota Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah Terpadu Efektif & Aktual (ARIMATEA) daerah Pati yang ketuai oleh Ustadz Abu Azka melakukan pengamatan lebih awal.

Sigapnya beberapa anggota yang melakukan pengamatan di daerah Jakenan, pasca kekeringan berhasil menghimpun beberapa informasi yang kemudian bisa ditindaklanjuti dengan melakukan penggalangan dana untuk membantu warga setempat, yang dilanda kekeringan dan juga untuk mengcounter apabila ada bantuan dari pihak lain yang mempunyai misi kristenisasi.

Sudah menjadi kebiasaan, di mana ada suatu daerah tertimpa musibah disitu pula terjadi kristenisasi dengan embel-embel bantuan kemanusiaan yang ujung-ujungnya terjadi pendangkalan aqidah terhadap umat Islam yang memang ketika musibah melanda mereka sangat membutuhkan bantuan.

Dalam kongres di Inggris tahun 1989, ditargetkan pada tahun 2000 penduduk dunia ini paling tidak 50% penduduk dunia ini harus menjadi pengikut Kristen.

Berbagai cara mereka tempuh untuk merusak keyakinan kaum Muslimin, seperti yang pernah di ungkapkan oleh Drs. Abu Deedat Syihab M.H pada laman voa-islam.com sebelumnya, beliau menuturkan bahwa dalam kongres di Inggris tahun 1989, ditargetkan pada tahun 2000 penduduk dunia ini paling tidak 50% penduduk dunia ini harus menjadi pengikut Kristen.

Kemudian harus pula disebarkan pemahaman Kristen, atau Bibel itu ke seluruh dunia. Seperti juga misinya Doulos, di mana tahun 2000 ditargetkan 125 suku yang ada di Indonesia harus jadi pengikut Kristus, itu sekitar 160 juta jiwa. Berarti sasarannya termasuk juga umat Islam. Dari target-target kristenisasi itulah maka umat kristen melakukan berbagai cara untuk memurtadkan kaum muslimin terlebih saat terjadi musibah seperti sekarang ini.

Ustadz Abu Azka selaku ketua kegiatan bakti sosial yang dilakukan ARIMATEA dan kelompok kajian Al-Jazera menyampaikan kepada voa-islam.com bahwasannya daerah Juana, Jakenan dan sekitarnya memang sudah terindikasi adanya kristenisasi.

Dari data yang diperoleh oleh anggotanya beliau menyampaikan di daerah Juana sudah pernah terjadi pendekatan yang dilakukan umat kristen terhadap kaum Muslimin diantaranya adalah pengobatan-pengobatan gratis, les privat gratis, buka puasa bersama hingga ajakan melaksanan perayaan ibadah mereka (umat kristen-red).

“Dengan adanya musibah kekeringan ini, saya juga menghimbau agar Kaum Muslimin tetap dan terus menjalin ukhuwah, teliti dan berhati-hati jangan sampai Aqidah saudara Muslim kita itu tergadaikan karena masalah yang mereka hadapi yang sebenarnya kita mampu untuk menolongnya,” katanya kepada voa-islam.com, Kamis (10/09).

“Program kristenisasi itu mungkin bisa saja terjadi karena kelalaian kita, jangan sampai kita lalai terhadap kebutuhan saudara sesama Muslim,” pungkasnya. [protonema/voa islam.com]


Cegah Pemurtadan, ARIMATEA dan Kelompok Kajian Al-Jazera Gelar Baksos Pembagian Air Bersih



RITV, Pati - Kemarau berkepanjangaan telah melanda kekeringan massal di beberapa wilayah Indonesia, salah satunya yang terjadi di Kecamatan Jakenan, Pati, Jawa Tengah. Terhitung sejak bulan Februari curah hujan sudah mulai menurun bahkan telah mulai terhenti pada awal bulan Maret sehingga membuat aliran sungai dan sumur-sumur masyarakat mengering.

Berkaitan dengan hal tersebut, tidak ingin kecolongan lagi seperti di daerah lain yang rawan kristenisasi pasca musibah gunung meletus, banjir, tanah longsor dan lainya pada Kamis (10/09), sejumlah Anggota Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah Terpadu Efektif & Aktual (ARIMATEA) daerah Pati-Jawa Tengah bersama kelompok kajian Al-Jazera Juwana-Pati melakukan Bakti Sosial (Baksos) dengan membawa 2 truk tanki bermuatan skitar 5000 liter/tankinya.

Sedikitnya ada 4 lokasi di daerahnya yang dilanda kekeringan parah pada tahun ini, di antaranya adalah Desa Mbungkus, Njetis, Ndukoh, dan Desa Nggunung.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menjalin ukhuwah dan membantu masyarakat setempat, untuk mendapatkan air bersih yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak dan lain-lainya.


Totok Ristiyono selaku Kepala Desa (Kades) Bintang Suko-Jakenan menuturkan sedikitnya ada 4 lokasi di daerahnya yang dilanda kekeringan parah pada tahun ini, di antaranya adalah Desa Mbungkus, Njetis, Ndukoh, dan Desa Nggunung.

"Satu dusun sedikitnya ada seratus Kepala Keluarga dan dari 6 Dusun yang ada hanya mempunyai 3 tampungan air yang bisa digunakan untuk menampung bantuan air," jelasnya. [protonema/voa-islam.com]


Mega Proyek Kristenisasi James Riyadi di Indonesia



RITV, Jakarta - Sungguh sangat luar biasa langkah strategis yang jalankan oleh James Riyadi yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negeri Kristen. Dengan proyek Mega-Kristenisasi James T. Riady tentu bukan sebuah pekerjaan main-main.

Perlu didukung dana dan jaringan yang luar biasa. Urusan dana, tak jadi kendala. Keluarga Riady adalah pengendali bisnis raksasa yang bergerak di bidang perbankan, TV kabel, telepon selular, online shopping, jasa teknologi informasi, perkantoran, dan sederetan bidang lainnya. Konon total asetnya mencapai $ 12 milyar dollar.

Cahaya TV atau apapun namanya bakal tampil menjadi andalan proyek misionaris dengan target ratusan juta warga berbahasa Indonesia dan Melayu. Ini akan bersinergi dengan proyek-proyek James T Riady sebelumnya, seperti pembangunan sekolah-sekolah Kristen di daerah miskin dan terpencil.

Melalui Harvest International Curriculum (HIC), mereka sedang menyiapkan 200 ribu pastor dan pekerja misionaris yang siap bergerilya memurtadkan jutaan Muslim Indonesia.

Namun dana besar saja tidak cukup. Perlu digerakkan oleh mesin yang taktis dan berjaringan luas. Karena itulah James T Riady menggandeng World Harvest Global (WHG) dan American Institute for Maghrib Studies (AIMS) untuk menyukseskan proyeknya.

WHG adalah pusat misionaris dunia yang bermarkas di California, AS. Berdiri tahun 1989 sebagai bagian dari program Koalisi Kristen yang dirintis evangelis terkenal, Pat Robertson. Cabangnya sudah bertebaran di banyak negara antara lain Jepang, Malaysia, Indonesia Jerman, dan Belanda.

Di Indonesia, markas WHG ada di Lippo Karawaci. Motor penggeraknya adalah sang boss Lippo Group, James T Riady. Tetapi namanya agak berbeda, yaitu World Harvest Center (WHC). Aktivitas sehari-harinya dikomandani oleh pendeta Dr Jimmy Oentoro.

Sedangkan AIMS adalah lembaga studi pemikiran dan kebudayaan Yahudi di AS. Institusi ini merupakan mitra utama Christian Coalition (Koalisi Kristen).

Hadirnya WHC di Indonesia tak lepas dari eratnya persahabatan spiritual antara James T.Riady dan pendeta Pat Robertson. Konon mereka mulai saling kenal tatkala keduanya terlibat dalam misi khusus tim sukses Presiden AS.

Mula-mula era George Bush Sr,kemudian Bill Clinton, dan akhirnya George W Bush. Selain aktif sebagai tele-evangelis di Christian Broadcasting Network (CBN) dan Christian Coalition, Pat Robertson memang menjadi tim inti kampanye kepresidenan keluarga George Bush.

Keluarga Riady pernah bikin heboh karena terlibat skandal keuangan dalam kampanye Presiden Bill Clinton (1992). Saat itu, Pat Robertson tampil sebagai saksi meringankan keluarga Riady.

Pada program The 700 Club di CBN, dia berkata, James Riady dan ayahnya (Mokhtar Riady, red) adalah teman karib saya. Keduanya telah lahir kembali dalam Kristen. James telah menyatakan keinginannya menjadi pastor dan misionaris.

Orang Asia perlu diberi kesempatan berpartisipasi sebagai pegawai Tuhan. Nampaknya, Keterlibatan James dalam misi Kristen diakui sebagai bagian dari pertaubatannya.

James juga menyebut Pat Robertson sebagai orang yang telah menyadarkannya kembali ke jalan terang. Dialah guru spiritual saya, ucap putra mahkota raja bisnis Lippo Group, Mochtar Riady ini.

Tampaknya hubungan Pat Robertson dengan keluarga Riady memang sangat dekat. Tahun 2002, dalam menyukseskan Proyek Misi 2002, Pat Robertson datang ke WHC di Lippo Karawaci Tangerang.

Persahabatan kedua gembala itu juga merambah dunia bisnis serta berbagai proyek dan agenda misi Kristen global. Keduanya melihat Indonesia bisa menjadi salah satu pusat misi Kristen yang prospektif.

Maka, berdirilah WHC di kawasan bisnis Lippo beserta sejumlah sarana penunjangnya. Ada lembaga pendidikan, seminari, rumah sakit, rumah produksi (production house), dan lembaga misi berkedok sosial lainnya.

Televisi Misionaris, sejak tahun 1998, James dan Pat secara khusus berkongsi mengembangkan International Family Entertainment (IFE) dengan investasi USD 10 juta. IFE bersama Lippo Group dan Malayan United Industries Bhd kemudian membeli 80% saham Chinese Entertainment.

Broadcast Ltd yang mengelola jasa layanan TV satelit 24 jam. Stasiun TV misionaris itu punya target menyergap 1,25 milyar audiens berbahasa Mandarin dan Melayu di kawasan Asia Pasifik.

Saat ini, keduanya sedang merancang sebuah televisi misionaris di Indonesia. Namanya belum pasti. Kabarnya, Cahaya TV, Gospel Overseas TV, atau Harvest TV. Kru televisi itu kini tengah belajar dan magang di CBN, jaringan televisi misonaris terbesar di AS (mungkin juga dunia) yang didirikan oleh Pat Robertson.

Tentang tekad James Riady untuk tampil all-out dalam gerakan kristenisasi, pernah dipaparkannya dalam wawancara dengan majalah Fortune pada 23 Juli 2001. James akan berkonsentrasi mengembangkan sekolahnya yang mewah di kawasan bisnis Lippo, serta proyek besar industri media.

Dia juga akan membuka 1.000 sekolah Kristen di desa-desa miskin di seluruh Indonesia. James juga memaparkan bagaimana dia bersama Pat Robertson terobsesi untuk membuka jaringan Kristen di Indonesia dengan WHC sebagai markas utamanya.

Sukses dibidang ekonomi, dan gerakan kristenisasi di Indonesia, melalui berbagai sarana yang dibangun itu, sekarang James Riyadi memasuki tahapan ketiga, yaitu masuk ke dunia politik.

Dengan lobbi di Washingto, menurut "Penyambung Lidah Bung Karno", Permadi, sekarang James Riyadi bersama sejumlah konglomerat Cina, ingin mengokohkan genggaman politik dengan menggunakan bonekanya 'Jokowi' yang bakal calon presiden yang akan didukung menjadi calon presiden 2014.

Jika sukses membawa Jokowi ke Istana Negara, James Riyadi dan kelompok konglomerat Cina di Indonesia, bukan hanya sukses menguasai ekonomi dan poliltik, tetapi dengan payung politik dan lobbi di Istana, maka James Riyadi akan semakin leluasa untuk mengembangkan kristen - evengelist di Indonesia. James Riyadi dan Jokowi sama-sama annggota Rotary Club.

Mungkinkah Islam hanya tinggal nama di Indonesia? Dengan begitu luar biasa gerakan kristenisasi James Riyadi yang didukung kekuatan dana dan sarana, serta gereja internasional, termasuk sejumlah lobbi di Washington. (Hidayatullah/afgh/voa-islam.com)