Relawan Islam TV - Televisi Pemersatu dan Benteng Akidah Islam

Kamis, 10 September 2015

Polemik Ketuhanan Dalam Kekristenan



Seri 1, Kajian Kristologi

Permasalahan – Permasalahan Yang Tidak Terbantahkan
Oleh: M. Chairul Aminu
Ketua II bid. Eksternal Forum ARIMATEA
082123205251

Nama Tuhan

Katolik Roma, Saksi Yehova dan sebagian denominasi Kristen lainnya, menganggap ajarannya merupakan kelanjutan atau penyempurna ajaran Yahudi, karena Yesus sendiri di lahirkan pada bangsa Israel.

Dalam ajaran Yahudi walau nama Tuhan ada dalam bentuk tertulis, tetragramathon atau empat huruf mati bahasa ibrani “YHWH” dalam bentuk latin atau “JHVH” versi inggris, namun nama itu terlalu suci untuk diucapkan, sehingga selama lebih dari 2000 tahun terakhir, pengucapan nama TUHAN yang tepat tidak diketahui.

DR.A.Cohen dalam, “Everyman’s Talmud”, orang Yahudi merasa tidak sopan bila nama pribadi Tuhan diucapkan, sehingga penghormatan istimewa diberikan kepada, “Nama Khusus” atau “Shem Hamephorash”, dari Tuhan, karena nama Tuhan menggambarkan dan memperlihatkan ciri-ciri pribadi Tuhan sendiri dan hal lain yang menimbulkan hukum pelarangan menyebut atau penggunaan nama Tuhan adalah untuk membedakan bangsa Israel dari bangsa-bangsa non-Yahudi.

A. Marmorstein, seorang Rabi Yahudi dalam bukunya, “The Old Rabbinic Doctrine of God”, mengatakan, pelarangan penggunaan nama TUHAN, ada dan dipatuhi sejak abad ketiga S.M. hingga abad ketiga M. Timbulnya larangan ini dikarenakan “helenistik” (pengaruh Yunani) terhadap Yahudi, kemurtadan para imam dan para bangsawan. Sikap berlebihan dalam mencegah penggunaan nama TUHAN dalam pembicaraan, merongrong dan mengaburkan identitas TUHAN yang benar, sehingga konsep TUHAN tanpa nama telah menciptakan kekosongan Teologi.

“Encyclopaedia Judaica”, hukum pelarangan pengucapan nama “YHWH” timbul karena penyalah artian perintah ketiga (Kel.20:7 ; Ulang.5:11), ”janganlah engkau menyebut nama Tuhanmu dengan sia – sia”.

Adapun Kekeristenan meyakini bahwa Yesus mengetahui dengan pasti nama TUHAN atau Bapa-nya, sebagai mana yang terdapat dalam Injil karangan Yohanes 12:28, “Aku telah menyatakan namaMu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepadaku dari dunia ini”, akan tetapi tidak ada satu ayat injilpun yang menulis dengan pasti nama TUHAN atau nama Bapa, sebab secara tradisional larangan penybutan nama TUHAN berlaku sejak tiga abad sebelum kemunculan Yesus hingga tiga abad setelah keberadaan Yesus, dan satu permasalahan lainnya sebagai mana yang dikemukan oleh George Howard, seorang profesor agama dan bahasa Ibrani dari Harvard adalah kitab-kitab suci umat Kristiani pada masa awal menggunakan bahasa Ibrani terjemahan Septuaginta Yunani, sehingga bentuk Ibrani nama TUHAN diambil dari istilah Yunani, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh ajaran Kekeristenan tidak mengetahui atau tidak memiliki nama TUHAN.

Adapun tulisan ALLAH dalam kitab bible hanya ada dalam bible berbahasa indonesia dan berbahasa bangsa-bangsa lain yang penduduknya mayoritas Muslim. Dalam al-kitab, tulisan ALLAH bukanlah nama sembahan (TUHAN), tapi merupakan kata ganti untuk Tuhan, sementara pada catatan kaki yang terdapat pada TANAKH, tulisan YHWH secara tradisional dibaca “Adonai” atau Tuhan.

Penuhanan Yesus dan Trinitas

“Yesus adalah Tuhan, datang dari kerajaan surga untuk menolong manusia dari lembah dosa, Yesus adalah anak Tuhanyang datang kedunia lewat proses kelahiran, Yesus adalah roh Tuhan yang masuk ke dalam jasad manusia”.

Konsep yang lahir dari musyawarah 318 uskup dari 1800 orang uskup yang diundang (1482 uskup diusir pulang) pada Konsili Eukumenis Niceaea I (20 Mei – 25 Juni 325 M.) yang didukung oleh kaisar Cuonstantianus tanpa kehadiran Paus Sylvester I, dan dukungan penguasa dan wewenangnya terus berlanjut untuk mencapai “kecocokan akhir” bagi doktrin tritunggal.

Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan, namun   tidak ada tiga Tuhan melainkan satu   Tuhan.

Satu Tuhan dalam tiga oknum / pribadi, masing-masing oknum: tidak bermula, kekal, setara (tidak lebih besar dan tidak lebih kecil), semuanya tidak diciptakan, mahakuasa.
The Illustrated Bible Dictionary: Trinitas tidak terdapat di Alkitab, dan baru mendapat tempat resmi didalam Theologi Gereja pada abad ke IV.

Dr. GC Van Niftrik, Dogmatika Masa Kini hal 549: Alasan yang menimbulkan perumusan Dogma Trinitas mungkin terdapat dalam I Yoh 5: 7 “ Sebab ada tiga yang memberi kesaksian didalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu”.

The Holy Bible NIV: I Yoh 5: 7 à Ayat Palsu, tidak dijumpai dalam Naskah Yunani sebelum abad 16.

Sebuah konsep yang hingga dewasa ini menimbulkan pertikaian dan perpecahan internal pada ajaran Kekeristenan dan ummat Kristen, yang tidak hanya menimbulkan permasalahan teologi, tetapi juga menimbulkan jutaan korban jiwa. Sejarah mencatat bagaimana diberlakukannya pengadilan “inkuisisi” oleh Paus Innocent III pada tahun 1229, yang membangkar hidup-hidup ribuan orang yang menolak”Trinitas”.

Pembantaian ini juga berlaku bagi kalangan intelektual gereja sendiri, sejarah mencatat nama-nama besar korban intoleransi ini diantaranya, Pendeta Arius, Michael Servertus yang di dalam bukunya, “De Trinitastis Erorribus” mengatakan Trinitas sebagai doktrin yang tidak masuk akal.

Pertikaian tidak hanya terjadi antar kelompok kristen yang menolak dan menerima doktrin trinitas, akan tetapi pertikaian juga terjadi antar kelompok yang menerima doktrin Trinitas. Perpecahan gereja ortodoks timur dengan gereja katolik roma atau lebih dikenal dengan stigma timur-barat, perpecahan berlanjut hingga dominasi gereja katolik terbagi lagi menjadi lutheran, calvinis, anglikan dsb. (lebih lengkap tertulis dalam”Catatan Berdarah Doktrin Trinitas”.)

Sejak awal munculnya konsep ini dan sampai kapanpun konsep ini diberlakukan, dapat dipastikan tidak akan pernah lepas dari pertikaian antar ajaran dan umat kristian itu sendiri, seperti dewasa ini di Indonesia, pertikaian anatara aliran keristen yang menamakan dirinya Keristen Tauhid dengan gerejanya Unitarian dan kelompok Iman Taqwa Kepada Shiraathal Mustaqiim (IMTKSM) yang berubah nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH) dan kekeristenan yang bergabung dengan Dewan Gereja Indonesia, tidak lepas dari perkara ketuhanan Yesus dan konsep trinitas (lebih jelas dapat dibaca pada tulisan “Benang Kusut Ketuhanan Yesus”.).

Profesor Wolfson dari Harvard dalam,”The Crucible of Christianity”,berpendapat bahwa masuknya orang-orang kafir yang mahir dalam filsafat dan istilah-istilah Yunani, banyak mempengaruhi ajaran Kristen khususnya doktrin tritunggal, lebih jauh ia mengatakan: “konsep tiga serangkai yang disusun oleh manusia untuk memahami intensitas Tuhan, merupakan misteri yang tidak dapat dipecahkan oleh akal manusia”. Gereja berusaha mencari dua istilah tekhnis yang baik dalam timbunan istilah filsafat, satu digunakan untuk menunjukkan bahwa setiap anggota tritunggal sebagai individu terpisah satu sama lain dan istilah lainnya akan digunakan untuk menunjukkan persatuan mereka yang mendasar.

Sejarawan Will Durant dalam, “The Story of Civilization: part III – Caesar and Chirst”. Menjelaskan bahwa, gereja mengambil alih beberapa kebiasaan agama pagan (kafir) dan bentuk-bentuk yang umum di Roma pra-kristen, air suci untuk pemurnian, lilin dan lampu abadi di depan altar, hingga bahasa Latin.

UMAT
TUHAN 1
TUHAN 2
TUHAN 3
INDIA
Brahma
Wisnu
Syiwa
PERSIA
Oromasdes
Mithra
Arimanius
MESIR
Osiris
Horus
Typhon
YUNANI
Orphic Phanes
Ericapeus
Metis
SKANDINAVIA
Odin
Thor
frey

Porphyry, seorang filusuf dari tira pada masa-masa awal Kekristenan dalam buku, “The Christians as The Romans Saw Them”, atas dasar Kitab Perjanjian Baru, mengatakan: ”bahwa Yesus tidak menyebut dirinya sendiri Tuhan dan bahwa ia memberitakan bukan mengenai dirinya, tetapi mengenai Tuhan yang Esa. Murid-muridnyalah yang meninggalkan ajarannya dan memperkenalkan jalan baru rekaan mereka sendiri, dengan menjadikan Yesus obyek ibadat dan pemujaan. Apakah Kristen bertumpu pada pengabaran Yesus atau ide-ide buatan para muridnya dari generasi setelah keberadaannya?”

The Encyclopedia Americana: Ajaran Trinitas diluar jangkauan akal manusia.

A Dictionary of Religious Knowledge: Pastinya doktrin Trinitas atau bagaimana hal itu harus dijelaskan, merekapun tidak sepakat.

New Catholic Encyclopedia: “ada gejala kebingungan dikalangan mahasiswa Theologia juga profesor-profesornya untuk memahami dan menyampaikan Trinitas”.

Imam Yesuit Joseph Bracken: “mengapa menyampaikan hal yg akhirnya tidak    dimengerti”.

Teolog Katolik Hans Kung: “Trinitas è salah satu alasan kenapa gereja – gereja tidak berhasil membuat kemajuan berarti dikalangan Non Kristen”.

Dr R. Soedarmo, “Ikhtisar Dogmatika” hal 114 : “Trinitas memang tidak dapat dimengerti”.

Roy Marten: “Bila sepuluh orang Kristen ditanya tentang Trinitas, akan     ada sebelas jawaban yg beda”.

Alban Douglas, “Inti Ajaran Alkitab” hal 19-20: “Mencoba mengerti Trinitas dengan akal bisa tidak waras.       Menyangkalnya, akan kehilangan jiwanya”.

FAKTA

Ajaran Kekristenan pasca keberadaan Yesus, merupakan sebuah ajaran yang penuh pertikaian dan perpecahan dikarenakan perkara hal yang esensial dari sebuah ajaran yaitu perkara sesembahan atau pemahaman tentang “Tuhan”.

Sejarawan Will Durant dalam, “The Story of Civilization: part III – Caesar and Chirst”. Mengatakan, ummat Kristiani terpecah menjadi begitu banyak golongan, sekitar tahun 187 M. Ireneus mendaftarkan dua puluh macam golongan, sekitar tahun 384 M. Ephiphanius mencatat Kekristenan telah menjadi delapan puluh golongan.

Penolakan atas penuhanan Yesus dan doktrin Trinitas serta perbedaan pendapat mengenai oknum yang tergabung dalam trinitas, menjadi sebab terbesar dari perselisihan yang berujung pada pertumpahan darah dan perpecahan dalam tubuh ummat kristiani.

Tuhan Bapa, Anak (Yesus), Bunda Maria, Roh Kudus, merupakan oknum-oknum yang dipercayai oleh Kekristenan bagian dari oknum Tuhan dalam konsep trinitas, dengan ramuan, “Tuhan Bapa-Anak-Roh Kudus” atau “Tuhan Bapa-Anak-Bunda Maria”, dan dewasa ini aliran-aliran yang menolak doktrin trinitas sebagian besar telah punah.

Satu hal yang luar biasa pelik adalah semua pertikaian dan perpecahan ini menutup mata ummat kristian dari keberdaan “Tuhan Bapa” yang tidak mereka pahami nama-NYA. (Forum Arimatea)


2 komentar:

  1. TUHAN dalam Agama apapun adalah sosok yang MAHA atas segala sesuatunya (Maha dalam artian yang Positif). Ketika 'Tuhan' menampakkan kelemahan dalam bentuk yang paling haluspun, maka wajarlah manusia mempertanyakan ke-Tuhan-annya.

    Sudah menjadi sifat natural manusia untuk mencari sosok yang SUPER sebagai tempat pengaduan terakhir, seandainya saja muncul sosok Tuhan yang memperlihatkan kelemahan, maka otomatis Otak Manusia bekerja untuk menolak sosok Tuhan tersebut.

    Alhamdulillah "Tuhan" dalam ajaran Islam memang dijelaskan dengan segala ke sifat2 SUPER (MAHA)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manusia terlahir dengan sifat bawaan merasa superior, jadi sudah sepantasnya pula manusia mencari Sosok TUHAN yang jauh lebih Superior dibanding dirinya dan orang lain

      Hapus