Seri 1, Kajian Kristologi
Permasalahan
– Permasalahan Yang Tidak Terbantahkan
Oleh: M.
Chairul Aminu
Ketua II
bid. Eksternal Forum ARIMATEA
082123205251
Nama Tuhan
Katolik Roma, Saksi Yehova dan sebagian denominasi
Kristen lainnya, menganggap ajarannya merupakan kelanjutan atau penyempurna
ajaran Yahudi, karena Yesus sendiri di lahirkan pada bangsa Israel.
Dalam ajaran Yahudi walau nama Tuhan ada dalam bentuk
tertulis, tetragramathon atau empat huruf mati bahasa ibrani “YHWH” dalam
bentuk latin atau “JHVH” versi inggris, namun nama itu terlalu suci untuk
diucapkan, sehingga selama lebih dari 2000 tahun terakhir, pengucapan nama
TUHAN yang tepat tidak diketahui.
DR.A.Cohen dalam, “Everyman’s Talmud”,
orang Yahudi merasa tidak sopan bila nama pribadi Tuhan diucapkan, sehingga
penghormatan istimewa diberikan kepada, “Nama Khusus” atau “Shem
Hamephorash”, dari Tuhan, karena nama Tuhan menggambarkan dan
memperlihatkan ciri-ciri pribadi Tuhan sendiri dan hal lain yang menimbulkan
hukum pelarangan menyebut atau penggunaan nama Tuhan adalah untuk membedakan
bangsa Israel dari bangsa-bangsa non-Yahudi.
A. Marmorstein, seorang Rabi Yahudi dalam
bukunya, “The Old Rabbinic Doctrine of God”, mengatakan, pelarangan
penggunaan nama TUHAN, ada dan dipatuhi sejak abad ketiga S.M. hingga abad
ketiga M. Timbulnya larangan ini dikarenakan “helenistik” (pengaruh Yunani)
terhadap Yahudi, kemurtadan para imam dan para bangsawan. Sikap berlebihan
dalam mencegah penggunaan nama TUHAN dalam pembicaraan, merongrong dan
mengaburkan identitas TUHAN yang benar, sehingga konsep TUHAN tanpa nama telah
menciptakan kekosongan Teologi.
“Encyclopaedia Judaica”, hukum
pelarangan pengucapan nama “YHWH” timbul karena penyalah artian perintah ketiga
(Kel.20:7 ; Ulang.5:11), ”janganlah engkau menyebut nama Tuhanmu dengan
sia – sia”.
Adapun Kekeristenan meyakini bahwa Yesus mengetahui
dengan pasti nama TUHAN atau Bapa-nya, sebagai mana yang terdapat dalam Injil
karangan Yohanes 12:28, “Aku telah menyatakan namaMu kepada semua
orang, yang Engkau berikan kepadaku dari dunia ini”, akan tetapi tidak
ada satu ayat injilpun yang menulis dengan pasti nama TUHAN atau nama Bapa,
sebab secara tradisional larangan penybutan nama TUHAN berlaku sejak tiga abad
sebelum kemunculan Yesus hingga tiga abad setelah keberadaan Yesus, dan satu
permasalahan lainnya sebagai mana yang dikemukan oleh George Howard,
seorang profesor agama dan bahasa Ibrani dari Harvard adalah kitab-kitab suci
umat Kristiani pada masa awal menggunakan bahasa Ibrani terjemahan Septuaginta
Yunani, sehingga bentuk Ibrani nama TUHAN diambil dari istilah Yunani, dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh ajaran Kekeristenan tidak
mengetahui atau tidak memiliki nama TUHAN.
Adapun tulisan ALLAH dalam kitab bible hanya ada dalam
bible berbahasa indonesia dan berbahasa bangsa-bangsa lain yang penduduknya
mayoritas Muslim. Dalam al-kitab, tulisan ALLAH bukanlah nama sembahan (TUHAN),
tapi merupakan kata ganti untuk Tuhan, sementara pada catatan
kaki yang terdapat pada TANAKH, tulisan
YHWH secara tradisional dibaca “Adonai” atau Tuhan.
Penuhanan Yesus dan Trinitas
“Yesus adalah Tuhan, datang dari kerajaan surga untuk
menolong manusia dari lembah dosa, Yesus adalah anak Tuhanyang datang kedunia
lewat proses kelahiran, Yesus adalah roh Tuhan yang masuk ke dalam jasad
manusia”.
Konsep yang lahir dari musyawarah 318 uskup dari 1800
orang uskup yang diundang (1482 uskup diusir pulang) pada Konsili Eukumenis
Niceaea I (20 Mei – 25 Juni 325 M.) yang didukung oleh kaisar Cuonstantianus
tanpa kehadiran Paus Sylvester I, dan dukungan penguasa dan wewenangnya terus
berlanjut untuk mencapai “kecocokan akhir” bagi doktrin
tritunggal.
Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus
adalah Tuhan, namun tidak ada tiga Tuhan melainkan
satu Tuhan.
Satu Tuhan dalam tiga oknum / pribadi, masing-masing
oknum: tidak bermula, kekal, setara (tidak lebih besar dan tidak lebih kecil),
semuanya tidak diciptakan, mahakuasa.
The Illustrated Bible Dictionary: Trinitas
tidak terdapat di Alkitab, dan baru mendapat tempat resmi didalam Theologi Gereja
pada abad ke IV.
Dr. GC Van Niftrik, Dogmatika Masa Kini hal 549: Alasan
yang menimbulkan perumusan Dogma Trinitas mungkin terdapat dalam I Yoh
5: 7 “ Sebab ada tiga yang memberi kesaksian didalam sorga:
Bapa, Firman dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu”.
The Holy Bible NIV: I Yoh 5: 7 à
Ayat Palsu, tidak dijumpai dalam Naskah Yunani sebelum abad 16.
Sebuah konsep yang hingga dewasa ini menimbulkan
pertikaian dan perpecahan internal pada ajaran Kekeristenan dan ummat Kristen,
yang tidak hanya menimbulkan permasalahan teologi, tetapi juga menimbulkan
jutaan korban jiwa. Sejarah mencatat bagaimana diberlakukannya pengadilan
“inkuisisi” oleh Paus Innocent III pada tahun 1229, yang membangkar hidup-hidup
ribuan orang yang menolak”Trinitas”.
Pembantaian ini juga berlaku bagi kalangan intelektual
gereja sendiri, sejarah mencatat nama-nama besar korban intoleransi ini
diantaranya, Pendeta Arius, Michael Servertus yang di dalam bukunya, “De
Trinitastis Erorribus” mengatakan Trinitas sebagai doktrin yang tidak masuk
akal.
Pertikaian tidak hanya terjadi antar kelompok kristen
yang menolak dan menerima doktrin trinitas, akan tetapi pertikaian juga terjadi
antar kelompok yang menerima doktrin Trinitas. Perpecahan gereja ortodoks timur
dengan gereja katolik roma atau lebih dikenal dengan stigma timur-barat,
perpecahan berlanjut hingga dominasi gereja katolik terbagi lagi menjadi
lutheran, calvinis, anglikan dsb. (lebih lengkap tertulis dalam”Catatan
Berdarah Doktrin Trinitas”.)
Sejak awal munculnya konsep ini dan sampai kapanpun
konsep ini diberlakukan, dapat dipastikan tidak akan pernah lepas dari
pertikaian antar ajaran dan umat kristian itu sendiri, seperti dewasa ini di
Indonesia, pertikaian anatara aliran keristen yang menamakan dirinya Keristen
Tauhid dengan gerejanya Unitarian dan kelompok Iman Taqwa Kepada Shiraathal
Mustaqiim (IMTKSM) yang berubah nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH) dan
kekeristenan yang bergabung dengan Dewan Gereja Indonesia, tidak lepas dari
perkara ketuhanan Yesus dan konsep trinitas (lebih jelas dapat dibaca pada
tulisan “Benang Kusut Ketuhanan Yesus”.).
Profesor Wolfson dari Harvard dalam,”The Crucible of
Christianity”,berpendapat bahwa masuknya orang-orang kafir yang mahir dalam
filsafat dan istilah-istilah Yunani, banyak mempengaruhi ajaran Kristen
khususnya doktrin tritunggal, lebih jauh ia mengatakan: “konsep
tiga serangkai yang disusun oleh manusia untuk memahami intensitas Tuhan,
merupakan misteri yang tidak dapat dipecahkan oleh akal manusia”. Gereja
berusaha mencari dua istilah tekhnis yang baik dalam timbunan istilah filsafat,
satu digunakan untuk menunjukkan bahwa setiap anggota tritunggal sebagai
individu terpisah satu sama lain dan istilah lainnya akan digunakan untuk
menunjukkan persatuan mereka yang mendasar.
Sejarawan Will Durant dalam, “The Story of
Civilization: part III – Caesar and Chirst”. Menjelaskan bahwa, gereja
mengambil alih beberapa kebiasaan agama pagan (kafir) dan bentuk-bentuk yang
umum di Roma pra-kristen, air suci untuk pemurnian, lilin dan lampu abadi di
depan altar, hingga bahasa Latin.
|
UMAT
|
TUHAN 1
|
TUHAN 2
|
TUHAN 3
|
|
INDIA
|
Brahma
|
Wisnu
|
Syiwa
|
|
PERSIA
|
Oromasdes
|
Mithra
|
Arimanius
|
|
MESIR
|
Osiris
|
Horus
|
Typhon
|
|
YUNANI
|
Orphic
Phanes
|
Ericapeus
|
Metis
|
|
SKANDINAVIA
|
Odin
|
Thor
|
frey
|
Porphyry, seorang filusuf dari tira pada masa-masa awal
Kekristenan dalam buku, “The Christians as The Romans Saw Them”,
atas dasar Kitab Perjanjian Baru, mengatakan: ”bahwa Yesus tidak menyebut
dirinya sendiri Tuhan dan bahwa ia memberitakan bukan mengenai dirinya, tetapi
mengenai Tuhan yang Esa. Murid-muridnyalah yang meninggalkan ajarannya dan
memperkenalkan jalan baru rekaan mereka sendiri, dengan menjadikan Yesus obyek
ibadat dan pemujaan. Apakah Kristen bertumpu pada pengabaran Yesus atau ide-ide
buatan para muridnya dari generasi setelah keberadaannya?”
The Encyclopedia Americana: Ajaran Trinitas
diluar jangkauan akal manusia.
A Dictionary of Religious Knowledge: Pastinya
doktrin Trinitas atau bagaimana hal itu harus dijelaskan, merekapun tidak sepakat.
New Catholic Encyclopedia: “ada gejala kebingungan
dikalangan mahasiswa Theologia juga profesor-profesornya untuk memahami dan
menyampaikan Trinitas”.
Imam Yesuit Joseph Bracken: “mengapa
menyampaikan hal yg akhirnya tidak dimengerti”.
Teolog Katolik Hans Kung: “Trinitas è salah
satu alasan kenapa gereja – gereja tidak berhasil membuat kemajuan berarti
dikalangan Non Kristen”.
Dr R. Soedarmo, “Ikhtisar Dogmatika” hal
114 : “Trinitas memang tidak dapat dimengerti”.
Roy Marten: “Bila sepuluh orang Kristen ditanya
tentang Trinitas, akan ada sebelas jawaban yg
beda”.
Alban Douglas, “Inti Ajaran Alkitab” hal
19-20: “Mencoba mengerti Trinitas dengan akal bisa tidak
waras. Menyangkalnya, akan kehilangan
jiwanya”.
FAKTA
Ajaran Kekristenan pasca keberadaan Yesus, merupakan
sebuah ajaran yang penuh pertikaian dan perpecahan dikarenakan perkara hal yang
esensial dari sebuah ajaran yaitu perkara sesembahan atau pemahaman tentang
“Tuhan”.
Sejarawan Will Durant dalam, “The Story of
Civilization: part III – Caesar and Chirst”. Mengatakan, ummat
Kristiani terpecah menjadi begitu banyak golongan, sekitar tahun 187 M. Ireneus
mendaftarkan dua puluh macam golongan, sekitar tahun 384 M. Ephiphanius
mencatat Kekristenan telah menjadi delapan puluh golongan.
Penolakan atas penuhanan Yesus dan doktrin Trinitas
serta perbedaan pendapat mengenai oknum yang tergabung dalam trinitas, menjadi
sebab terbesar dari perselisihan yang berujung pada pertumpahan darah dan
perpecahan dalam tubuh ummat kristiani.
Tuhan Bapa, Anak (Yesus), Bunda Maria, Roh Kudus,
merupakan oknum-oknum yang dipercayai oleh Kekristenan bagian dari oknum Tuhan
dalam konsep trinitas, dengan ramuan, “Tuhan Bapa-Anak-Roh Kudus” atau “Tuhan
Bapa-Anak-Bunda Maria”, dan dewasa ini aliran-aliran yang menolak doktrin
trinitas sebagian besar telah punah.
Satu hal yang luar biasa pelik adalah semua pertikaian
dan perpecahan ini menutup mata ummat kristian dari keberdaan “Tuhan Bapa” yang
tidak mereka pahami nama-NYA. (Forum Arimatea)

TUHAN dalam Agama apapun adalah sosok yang MAHA atas segala sesuatunya (Maha dalam artian yang Positif). Ketika 'Tuhan' menampakkan kelemahan dalam bentuk yang paling haluspun, maka wajarlah manusia mempertanyakan ke-Tuhan-annya.
BalasHapusSudah menjadi sifat natural manusia untuk mencari sosok yang SUPER sebagai tempat pengaduan terakhir, seandainya saja muncul sosok Tuhan yang memperlihatkan kelemahan, maka otomatis Otak Manusia bekerja untuk menolak sosok Tuhan tersebut.
Alhamdulillah "Tuhan" dalam ajaran Islam memang dijelaskan dengan segala ke sifat2 SUPER (MAHA)
Manusia terlahir dengan sifat bawaan merasa superior, jadi sudah sepantasnya pula manusia mencari Sosok TUHAN yang jauh lebih Superior dibanding dirinya dan orang lain
Hapus