Muslim India
RITV, Washington - Sebuah buku baru karya sejarawan Universitas
Stanford mengungkapkan pertautan budaya antara Muslim dan Hindu dalam manuskrip
berbahasa Sansekerta.
Karya bertajuk Culture of
Encounters: Sanskrit at the Mughal Court ini ditulis Audrey Truschke,
seorang sarjana terkemuka di bidang sejarah budaya dan intelektual Asia
Selatan.
Kebanyakan orang berpendapat, asal usul
konflik beragama di India telah dimulai berabad-abad silam sejak Abad
Pertengahan, ketika Islam berkuasa di anak benua India. Lewat kajiannya,
Truschke membantah gagasan ini.
Ia berpendapat, kejayaan kekuasaan Islam
di India abad 16-18 itu pada kenyataannya dibangun atas toleransi dan
penghormatan lintas budaya yang luar biasa, ketimbang konflik
kultural-religius. Kesimpulan itu diperoleh setelah melakukan telaah atas
manuskrip Sansekerta dan Persia dari masa kekaisaran Mughal.
"Penelitiannya melukiskan gambaran
yang jauh berbeda dari persepsi umum, yang menganggap kehadiran Muslim selalu
bermusuhan dengan bahasa, agama, dan budaya India," tulis pihak
Universitas Stanford dalam sebuah pernyataan, dilansir dari The Peninsula
Qatar, Sabtu (12/9).
Menurut Truschke, politik pecah belah
sebenarnya dikembangkan selama periode kolonial antara 1757-1947. Banyak
konflik agama di India telah didorong asumsi ideologis ini. Mereka tidak
melacak secara akurat sejarah kedua agama.
"Inggris mengambil keuntungan dari
perpecahan Hindu dan Muslim dan menggambarkan diri mereka sebagai pihak netral
yang bisa menjaga konflik antara agama-agama kuno di sini," tulis
Truschke. (Republika.co.id)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar